Malam Selikuran, Tradisi Desa Mardiharjo Menyambut Malam Lailatul Qadar

Malam Selikuran Dusun IV Blok Kaliduren Desa Mardiharjo

Mardiharjo-Malam Selikuran memiliki arti harfiah Malam ke dua puluh satu di bulan Ramadhan. Tradisi ini untuk menyambut malam Lailatul Qadar , yang mana menurut ajaran Agama Islam Malam Lailatul Qadar terjadi pada tanggal ganjil dimulai pada malam selikur. Selikur juga kadang diartikan sebagai sing linuwih ing tafakurTafakur berarti usaha untuk mendekatkan diri pada Allah Swt.

Diperkirakan tradisi selikuran sudah ada sejak zaman Waliosngo dalam menyebarkan agama Islam. Seiring dengan perkembangan zaman, ada kegiatan tambahan malam selikuran seperti qiratul Al Qur’an, qiroah, tausiyah, zikir, istigfar, dan doa.

Di Desa Mardiharjo sendiri Malam Selikuran sudah menjadi tradisi turun menurun yang diwariskan oleh mbah-mbah yang berasal dari Yogyakarta dan sekitarnya. Warga dusun berbondong-bondong berkumpul di langgar dengan membawa makanan. Kemudian makanan tersebut dikumpulkan dan didoakan oleh tokoh agama setempat dilanjutkan makan bersama sebagai wujud kebersamaan.

Tradisi Malam Selikuran tetap dilestarikan oleh masyarakat Kalurahan Tepus sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur dan nilai-nilai agama. Meskipun beberapa ritual mungkin telah mengalami penyesuaian, esensi dari Malam Selikuran tetap terjaga, yaitu memperkuat ikatan spiritual dan sosial antarumat Islam.